Mendiskusikan Kebebasan di Manado

Cerita    | 12 Mei 2017 | Read 292 times
Mendiskusikan Kebebasan di Manado

Tema kebebasan seakan tak pernah berakhir untuk diperbincangkan. Mungkin karena Kebebasan melahirkan beragam tafsir bahkan konsekuesi yang tidak semua orang sepakati. Sesuatu yang sangat penting dan kontroversial pada umumnya memang demikian. Tapi kebenaran akan kebebasan sebenarnya tak perlu dicari dan dibayangkan dengan abstraksi tingkat tinggi. Kebabasan ada di sini dan hari ini. Tak bisa ditunda dan dibatasi.

Berbicara tentang kondisi kebebasan, adalah perlu mengaitkan kondisi kebebasan di Indonesia.  Sebab, kebebasan di Indonesia masih termasuk bermasalah, baik itu pada tingkat hubungan kelompok maupun aatar individu; warga negara dengan pemerintah. Misalnya, tentang kebebasan beragama dan kebebasan ekonomi yang termasuk masalah krusial yang perlu diperhatikan.

Indonesia adalah negara dengan beragam suku dan budaya. Prinsip dan nilai-nilai hidup pun berbeda-beda. Namun, yang menjadi masalah besar adalah bagaimana pandangan nilai kelompok tertentu dipaksakan kepada orang lain, atau kepercayaan moral suatu agama merasa perlu mengukur kepercayaan moral agama lainnya. Ini setidaknya terkait dengan kasus Gubernur  Jakarta, Ahok, atau blasphemy, yang menciptakan kegaduhan yang berlarut-larut di tengah masyarakat kita. Ahok sebenarnya tidak bersalah, namun karena ukuran moral tertentu digunakan untuk menghakimi tindakannya, Ahok dimasukkan ke penjara. Suatu kemunduran demokrasi yang sangat menyedihkan!

Begitupun persoalan ekonomi. Indonesia, pemerintahan Jokowi cukup terbuka dengan perdagangan dan investasi. Namun, masih tetap bermasalah dalam wilayah-wilayah tertentu. Misalnya, wacana mengenai pajak progresif akan lahan kosong; utang negara yang konon ditingkatkan karena defisit anggaran; kelompok kepentingan yang cenderung mendorong kebijakan sepihak; adalah beberapa masalah yang masih melekat di pemerintahan saat ini.

Pada 6 Mei 2017 lalu, saya berkesempatan mengikuti diskusi dari Suara Kebebasan yang diwakili oleh Rofi Uddarojat, dengan tema: “Kondisi Kebebasan Kita” yang dilaksanakan di Manado, tepatnya di Kedai Rumah Kopi Billy. Di dalam diskusi selama 4 jam tersebut, saya banyak belajar mengenai pentingnya kebebasan dalam kehidupan ekonomi dan politik. Kebebasan mampu menciptakan kesejahteraan ekonomi masyarakat dan kesadaran moral individu.

Ada dua topik yang setidaknya saya tangkap terkait dengan kebebasan, yang menurut saya sangat esensial, yaitu kebebasan pada sisi teoritis maupun pada sisi praktis. Dalam wilayah teoritis, kebebasan selalu mengandaikan kebebasan negatif (atau lawan kebebasan positif). sehingga, baik kelompok liberalisme klasik maupun libertarianisme menjadikan kebebasan sebagai prinsip utama atau core dalam perjuangan politik. Mulai dari Adam Smith, sebagai bapak liberal klasik, d tarik ke depan sampai neoklasik,  sebagai standar rujukan konsepsi kebebasan. Untuk perluasan teoritis ini, sisi praktisnya adalah pasar bebas free market dan kapitalisme capitalism, sebuah kondisi yang niscaya dari masyarakat bebas.

Namun, terkait dengan kebijakan ekonomi dalam setiap pemerintahan suatu negara, kebebasan kerap diabaikan atas nama pemerataan dan keadilan sosial. Ini adalah kekeliruan yang terus dipelihara, bahkan dijadikan bahan kampaye oleh setiap politisi yang tidak mengetahui dampak buruknya. Dalam perspektif kebebasan, pemerintah seharusnya membatasi diri pada wilayah-wilayah hukum untuk menjamin kebebasan dan keadilan. Rofi juga memaparkan soal ini dengan sangat jelas, bahwa jika kebebasan setiap individu ditekan, maka kesejahteraan ekonomi pun sulit untuk dicapai.

 Salah satu pemantik kita dalam diskusi, Amato Assagaf, juga memaparkan konsep kebebasan dalam terang perdebatan teoritis. Selain untuk mengokohkan klaim kebebasan, menurutnya sisi teoritis juga merupakan pertanggungjawaban rasional pada lawan-lawan politik. Apalagi jika dikaitkan dengan para pemikir dan ekonom mazhab Austria, yang meletakkan basis teoritis yang komprehensif pada bidang ekonomi dan filsafat sosial.

Dari situ, diskusi kami berlanjut pada tema peran negara dan pasar, juga pengandaian filosofis bagaimana jika pemerintah tidak hadir di dalam pertukaran pasar bebas.  Terjadi diskusi yang sangat serius pada sesi ini. Sebagian peserta diskusi mengajukan pertanyaan kritis juga tanggapan-tanggapan yang menarik. Bisa dikatakan, diskusi tersebut adalah diskusi yang paling menarik yang pernah saya ikuti.

Dari diskusi  tersebut, disimpulkan bahwa kebebasan adalah kondisi yang sangat penting dalam menentukan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Kita bahkan bisa menyimpulkan bahwa perjuagan manusia dalam sejarah adalah perjuangan akan kebebasan. Setiap tindakan manusia didorong oleh motif kepentingan diri self interest dalam relasi sosialnya. Dan kepentingan diri selalu mensyaratkan kebebasan untuk mencapai sesuatu yang bernialai. Kita tak bisa membayangkan bagaimana situasi kita saat ini jika dulunya kebebasan setiap individu ditekan oleh kekuasaan, kita tak bisa menikmati kemudahan hidup dengan bantuan teknologi ciptaan manusia-manusia bebas dan cerdas di masa lalu.

Sungguh saya sangat beruntung bisa mengikuti diskusi langsung bersama Suara Kebasan. Beberapa teman lain juga mengungkapkan bahwa mereka beruntung mendapat pengetahuan berharga mengenai pentingnya kebebasan dalam menjalani kehidupan. Sebelumnya memang mereka cukup ragu mengenai ide kebebasan dibiarkan sepenuhnya kepada tiap individu, khususnya mengenai kebebasan ekonomi. Namun, berkat diskusi apik yang berjalan lancar bersama dua pemantik diskusi, Rofi dan Amato, semua keraguan itu bisa terjawab dengan jawaban yang cukup rasional.

 

 

Hendra Manggopa

Hendra Mangopa adalah anggota yang aktif di lingkaran Mises Club Indonesia dan penggiat di Amagi Indonesia, Organisasi Non Pemerintah yang didasarkan pada prinsip Libertarianisme, ingin membawa tradisi pemikiran Mazhab Austria ke dalam perbincangan ekonomi kita saat ini. Upaya Amagi diawali dengan pembukaan lingkaran studi bernama Mises Club Indonesia yang berpusat di Manado, Sulawesi Utara.