Mengkaji Perdagangan Bebas di Surabaya

Cerita    | 3 Mei 2017 | Read 345 times
Mengkaji Perdagangan Bebas di Surabaya

Selama ini pemerintah terus menggaungkan mengenai perdagangan bebas, pasar bebas dan lain sebagainya. Semua orang ikut andil dalam bersuara, memberikan opini atas dasar kesiapan dan ketidaksiapan negara dalam menghadapi era global, termasuk pasar bebas. Seringkali saya mengikuti seminar tentang program pasar bebas yang dicanangkan pemerintah, namun hal tersebut hanya sedikit sekali membekas dalam ingatan.

Terlebih saya tidak mendapatkan gambaran secara utuh makna pasar bebas dan bagaimana imbasnya terhadap ketatanan ekonomi.

Berangkat dari keingintahuan yang kuat, saya mengikuti kegiatan dari FNF Indonesia dan SuaraKebebasan.Org selama 3 hari, terhitung sejak 21 April hingga 23 April di Surabaya. Kegiatan dibuka dengan sangat menyenangkan dengan cara perkenalan yang dibuat melalui games, tak lupa juga dalam sesi perkenalan tersebut disisipkan unsur mengenai kebebasan individu. Misalnya, siapa saja yang setuju dengan pernikahan beda agama, LGBT, dan legalisasi narkoba. Fasilitator lokakarya ialah Muhamad Iksan dari Suara Kebebasan didampingi oleh rekan-rekan dari FNF Indonesia dan Local Organizer.

Selain itu, pada hari pertama juga kami mendiskusikan  film terkait permasalahan ekonomi di Kuba. Karena saya baru mengetahui bahwa ternyata bayaran supir Taksi di Havana Kuba melebihi gaji seorang Dokter medis. Mengapa demikian, jawabnya terletak pada ekonomi non-pasar alias black market yang mendominasi ekonomi Kuba.

Di hari kedua, berlangsung sesi yang membahas mengenai “Introduction to Free Market and Deregulation Policy.” Materi dibawakan oleh Rofi Uddarojat, Editor Pelaksana website Suara Kebebasan. Setelah diberikan materi, kami diminta dibagi menjadi 4 kelompok untuk membahas perihal kebijakan pemerintah yang mendestorsi pasar. Kebetulan kelompok saya mendapatkan wilayah Surabaya dan sekitarnya. Saya dan kelompok membahas mengenai masyarakat Madura yang menolak adanya pembangunan di sekitar Suramadu, yang pada akhirnya memberikan batasan bagi investor serta berimbas langsung terhadap stagnannya perekonomian masyarakat Madura. Sesi diskusi berjalan sangat teratur dan jelas dengan sumber bahasan yang sesuai dengan realita.

Setelah diskusi ada sesi yang sangat menarik, yaitu permainan Sim Democracy. Sim Democracy adalah sebuah permainan sejenis monopoli,  namun di Sim Democracy kita akan berperan sebagai penyelenggara negara, baik sebagai pemerintah maupun sebagai menteri yang mengatur segara permasalahan rakyat. Dalam permainan ini juga belajar bagaimana cara menganggarkan dana dengan bijak agar semua kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Hari kedua berjalan dengan sangat mengesankan.

Hari ketiga berlangsung cukup singkat, kegiatan dimulai dengan simulasi lelang buku dimana kami semua belajar bagaimana mekanisme sebuah lelang yang kemudian menjadi sebuah contoh atau miniatur kecil dalam aplikasi pasar bebas. setelah seru dengan lelang buku, untuk mengakhir kegiatan kami diminta untuk berdiskusi mengenai 10 prinsip liberal klasik, tentang apa, bagaimana, dan peran prinsip-prinsip tersebut.

Diantara kesepuluh prinsip libertarian adalah kebebasan sebagai virtu ekonomi-politik, individualism, skeptis kepada kekuasaan, supremeasi hukum, masyarakat madani, keteraturan spontan, pasar bebas, toleransi, perdamaian, dan pemerintahan yang terbatas. Khususnya dalam menangani permasalahan adanya akses terbatas bagi liberalsime berkembang dand diterima publik secara luas.

Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi saya, terkhusus membuka pemikiran seluas luasnya terhadap perkembangan ekonomi masa kini, tentang bagaimana cara mempertahankan era keemasan ekonomi dan tantangan melalui perspektif liberal. Semoga kita selalu bijak dalam menentukan langkah, terlebih yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan umum.

Adelia Tiara Ulfa

Adelia Tiara Ulfa memiliki ketertarikan terhadap dunia sosial politik dan sastra. Ia seringkali terlibat dalam diskusi kampus. Saat ini ia sedang menempuh semester 6 jurusan Administrasi Publik di Universitas Negeri Surabaya. Email: [email protected]