Kiprah Suara Kebebasan di Asia Liberty Forum 2017

Cerita    | 3 Mar 2017 | Read 861 times
Kiprah Suara Kebebasan di Asia Liberty Forum 2017 Editor-in-Chief www.suarakebebasan.org sedang menyampaikan presentasi pada Shark Think Tank Competition ALF-2017

10-11 Februari 2017 tercatat sebagai tanggal terlaksananya hajatan regional dari para penggiat dan pejuang Kebebasan (Asia Liberty Forum-ALF) dari berbagai kawasan di Asia. Ini kali kedua saya hadir, setelah sebelumnya tahun lalu di Kuala Lumpur-Malaysia, sebagai salah satu pembicara dalam sesi break-out konferensi 2016. Centre for Civil Society (CCS) bertindak sebagai tuan rumah ALF 2017 dengan dukungan penuh dari Atlas Network serta mitra lainnya seperti Frederich Naumann Foundation – Kantor Asia Selatan.

ALF 2017 diselenggarakan di Mumbai, dahulu tersohor dengan pusat perfilman India, Bombay yang mendunia dengan merek Bollywood. Dalam konferensi ALF kali ini, Suara Kebebasan memperoleh kesempatan berharga untuk mempromosikan gagasan advokasi masyarakat sipil dalam pemilihan kursi kosong Mahkamah Konstitusi (MK) yang ditinggalkan mantan Hakim MK Patrialis Akbar, akibat terjerat Operasi Tangkap Tangan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) akhir Januari lalu.

Editor Utama Adinda Tenriangke Muchtar telah menuliskannya dalam editorial terbaru kami. Walaupun belum berhasil memenangkan juara pertama pada kontes Shark Think Tank Competition gagasan kami, namun kami memperoleh kesempatan langka dan sangat berharga, untuk menyakinkan kelima juri dalam kontes tersebut. Diantara para juri yaitu:  Dan Grossman dari Atlas Network, Daniel Green dari the John Templeton Foundation, Luis Miranda dari CCS, Rajesh Jain dari Free A Billion, and Terry Kibbe dari Free the People. Pesaing kami juga sangat kompetitif dari Nepal (Samridhhi) dan Malaysia (Institute for Democracy and Economic Affairs – IDEAS). Tentu saja kami telah merasa cukup senang gagasan advokasi riil ini diapresiasi Atlas Network guna tampil dalam salah satu acara konferensi kali ini. Kami juga berkomitmen untuk meneruskan gagasan ini dengan berkoalisi dengan jaringan pro-HAM di tanah air.

Editor-in-Chief www.suarakebebasan.org sedang menyampaikan presentasi pada Shark Think Tank Competition ALF-2017

Salah satu sesi yang saya ikuti dan paling berkesan adalah Winning the Battle of Ideas. Sesi dimoderatori oleh Rainer Heufers dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Indonesia yang menghadirkan Raghan Bahl dari The Quint, India; Tom Palmer dari Atlas Network, Amerika; Linda Whestone dari Network for a Free Society, Inggris; Ma Jun Jie dari Unirule Institute of Economics, China.

Suasana diskusi hangat meliputi sesi pertama itu, mengingat kondisi dan menguatkan gerakan anti-liberalisme di pelbagai kawasan di dunia. Di Amerika Serikat misalnya, terpilihnya Presiden Donald Trump yang disokong oleh gerakan Alt-Right (Kanan Alternatif) mencoba membalikkan publik ke masa lalu, dimana superioritas kaum kulit putih masih sangat dominan.

Di China, teman saya Ma Jun Jie menuturkan bagaimana rezim Presiden Xi Jinping semakin bertindak represif dengan menutup laman Unirule Institute of Economics, salah satu lembaga pemikir dengan tradisi liberalisme klasik, yang sangat berjasa mempercepat dan mendorong China untuk memasuki ekonomi pasar. Coba anda berselancar Unirule, maka anda akan temui ini.

Dari Eropa menguatkan Partai-Partai aliran Ekstrem Kanan yang akan bertarung pada Pemilihan Umum tahun ini di dua negara besar penyokong kuat Uni Eropa: Perancis dan Jerman, yang menambah daftar panjang menguatnya illiberalism dalam sisi praksis politik. Sementara itu, di India sebagaimana terekam dalam video berikut, dimana Amit Varma menarasikan dan mengekspresikan dengan jelas kekecewaaan terhadap Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi.

Di tengah berbagai tantangan eksternal bagi gagasan dan gerakan liberal di kawasan Asia perlu terus menumbuhkan optimisme yang bersandar pada kesadaran bahwa kita tidak sendiri menghadapi masalah ini. Menjumpai kawan-kawan lama seperti Ken Scholand dari Hawaii, Amerika Serikat dan Barun Mitra dari India, juga jejaring baru semisal Linda Whetstone dari Inggris dan Glenn Cripe dari Amerika Serikat. Seturut dengan Amit Varma, saya percaya bahwa menghadapi tantangan lama (old challenge) dan masalah baru (new problem) yang sama tetapi juga kesempatan yang baru memungkinkan gagasan dan gerakan liberalisme klasik diterima lebih luas oleh khalayak umum dan memenangkan pertarungan gagasan melawan pesaing-pesaing lamanya.

 

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan