Ngopi Sore #4 Untuk Kebebasan

Cerita    | 5 Jan 2017 | Read 748 times
Ngopi Sore #4 Untuk Kebebasan

Sabtu 3 Desember lalu, kami mengadakan acara rutin bulanan laman ini, berupa pemutaran film (movie screening) dan diskusi setelahnya. Film yang kami pilih ialah The Commanding Heights: The Battle for the World Economy yang menghadirkan pembicara tunggal Ulil Abshar Abdalla, pendiri Jaringan Islam Liberal. Acara ini mengambil tempat di Paviliun 28, Jakarta Selatan, sebuah café yang juga menyediakan cinema.

Pembaca yang budiman tentu bertanya mengapa Suara Kebebasan mengambil film klasik The Commanding Height, yang diadaptasi dari buku dengan judul yang sama karya dua orang penulis: Daniel Yergin dan Joseph Stanislaw. Buku ini menyajikan pertarungan gagasan ekonomi-politik yang membentuk ekonomi dunia abad ke 20 dan dampaknya masih terasa sampai saat ini di awal abad ke 21. Pertarungan klasik ini melibatkan dua ekonomi yang sama-sama kita ketahui: Frederich August von Hayek (Hayek) dan John Maynard Keynes (Keynes).

Parodi pemikiran ala Hayek dan Keynes juga telah dapat kita saksikan di “Fear Boom and Bust” Fight of the Century: Keynes versus Hayek Round Two” Melalui tayangan parodi tadi, anda bisa belajar tentang bagaimana pemikiran kedua ekonomi hebat itu dalam mengatasi krisis ekonomi.

Ngopi sore keempat ini cukup mendapat sambutan dari para pembaca setia maupun viewers suara kebebasan yang baru mengenal situs ini. Sekitar dua puluh peserta mengikuti acara nonton bareng. Sementara itu, diskusi yang dilakukan setelahnya juga dihadiri oleh lebih kurang jumlah yang sama.

Film dokumenter yang diproduksi oleh PBS pada tahun 2002 ini, diawali dengan dunia yang kaotik ditengah krisis ekonomi Asia Tenggara 1998, gerakan anti globalisasi, dan serangan teroris terhadap kota New York, Amerika Serikat. Lalu Ia mengajak penonton mengarungi kejadian-kejadian ekonomi politik yang saling terintegrasi mulai dari wilayah Amerika Latin, Asia (Asia Tenggara, India dan China), Amerika Serikat, Eropa, serta Rusia (Uni Sovyet).

Film yang terdiri dari tiga episode ini, yang kami putar hanya episode pertama, membawa penonton ke era Perang Dunia Pertama dan Perang Dunia Kedua guna memberikan konteks historis terhadap kelahiran gagasan ekonomi Keynesian vis-à-vis gagasan ekonomi kontra-Keynesian, misalnya Mazhab Ekonomi Austria yang diwakili oleh tokoh utamanya FA Hayek.

Magnus opus Hayek yaitu pamphlet ekonomi-politik Road to Serfdom yang sudah dialihbahasakan oleh Freedom institute dan FNF Indonesia melalui judul “Ancaman Kolektivisme” tidak lupa disinggung dalam bagian pertama dokumenter ini. Lengkap bersama pertemuan bersejarah Month Pelerin Society, suatu komunitas yang digagas oleh Hayek bersama rekan-rekan libertarian seperjuangannya. Didalamnya ramai dengan diskusi yang mengasyikan diikuti.

Pada pertemuan pertama, dihadiri oleh gurunya sendiri Ludwig von Mises serta dihadiri para ekonom dan jurnalis ekonomi yang berlangsung dari tanggal 1 sampai 10 April 1947. Salah satu dari kami, Adinda Tenriangke Muchtar, juga ikut ambil bagian dalam pertemuan Month Pelerin Society tahun ini. Ia berbagi cerita yang dapat disimak di opini ini.

Acara yang terselenggara atas dukungan Atlas Network serta support dari Alan Gibbs, New Zealand memberikan semacam prelude dari lokakarya Mises Bootcamp Indonesia yang kami laksanakan tepat seminggu setelahnya. Bukan suatu kebetulan, lokakarya perdana terselenggara atas kerjasama apik antara Suara Kebebasan dan Indo-Libertarian, dengan dukungan sepenuhnya dari Atlas Network dan Alan Gibbs, mengambil topik pembahasan tentang Mazhab Ekonomi Austria.

Pertanyaan menarik dari salah satu peserta diskusi Ngopi Sore#4 misalnya Nurlintang Sari bertanya tentang pilihan kebijakan mana yang perlu didahulukan kebebasan (ekonomi) atau pemerataan (equality)? Jawabnya jelas seperti pesan Friedman, The society that puts equality before freedom will end up with neither. The society that puts freedom before equality will end up with a great measure of both.” Kita memercayai pemerataan dalam kesempatan ketimbang pemerataan dalam hasil.

Selain itu, peserta lain, Fatimah Zahra, juga bertanya tentang bagaimana mazhab ekonomi Austria memandang dan mengatasi krisis ekonomi. Bagi Hayek, kepercayaan terhadap pasar kemudian tidak tergantikan oleh intervensi pemerintah. Ia meneruskan tradisi Adam Smith, model ekonomi laissez-faire yang mengandalkan kekuatan pasar, perdagangan bebas, kekuatan swasta (free enterprise).

Bahkan dalam kondisi krisis dimana gagasan Keynes terlihat meyakinkan. Bagi Hayek, bukan politisi yang memiliki kewajiban mengelola naik turunnya kapital dan pasar, melainkan membebaskan keduanya (pasar dan kapital) mengikuti siklus bisnis.

Muhamad Iksan

Muhamad Iksan (Iksan) adalah Pendiri dan Presiden Youth Freedom Network (YFN), Indonesia. YFN berulang tahun pertama pada 28 Oktober 2010, bertempatan dengan hari Sumpah Pemuda. Iksan, juga berprofesi sebagai seorang dosen dan Peneliti Paramadina Public Policy Institute (PPPI), Jakarta. Alumni Universitas Indonesia dan Paramadina Graduate School ini telah menulis buku dan berbagai artikel menyangkut isu Kebijakan Publik. (public policy). Sebelum bergabung dengan Paramadina sejak 2012, Iksan berkarier sebagai pialang saham di perusahaan Sekuritas BUMN. Ia memiliki passion untuk mempromosikan gagasan ekonomi pasar, penguatan masyarakat sipil, serta tata kelola yang baik dalam meningkatkan kualitas kebijakan publik di Indonesia.

Iksan bisa dihubungi melalui email [email protected] dan twitter @mh_ikhsan