Selaras Paham Lawan Kejahatan Seksual

Cerita    | 9 Jun 2016 | Read 1110 times
Selaras Paham Lawan Kejahatan Seksual

Langit menggelap dan waktu menunjukkan pukul tujuh malam, sekumpulan anak muda selaku panitia mengeluarkan bangku-bangku tambahan dan memberikannya pada pengunjung yang datang untuk duduk. Kedai kopi Coffee War yang terletak di kawasan Kemang Timur, Jakarta Selatan pada hari Minggu, 29 Mei lalu ramai tidak seperti biasanya. Diskusi malam itu diawali dengan sambutan dari Rudolf Dethu dan Fadly Noor selaku penyelenggara. Acara ini dimoderatori oleh Arman Dhani yang membuka acara diskusi berjudul “Selaras Paham Lawan Kekerasan Seksual” yang diselenggarakan atas kerjasama tiga lembaga, yakni Liberty Studies, Forum Muda Bebas Bertanggung Jawab, dan Solidaritas Perempuan. Diskusi dilaksanakan karena kebutuhan untuk meluruskan pemberitaan kekerasan seksual, khususnya perkosaan yang ramai dibicarakan selepas kasus perkosaan YY, seorang anak yang berusia 14 tahun di Bengkulu.

Pemaparan pertama dilakukan oleh Nisa Yuraa dari Solidaritas Perempuan yang membahas tentang bagaimana perkosaan hanya salah satu dari 15 bentuk kekerasan seksual terhadap perempuan. Perkosaan terjadi karena relasi kuasa dan bukan karena tubuh perempuan yang dianggap menggoda. Tindak perkosaan yang lebih menunjukkan kuasa laki-laki dalam menguasai juga terjadi pada masa konflik dan peralihan kekuasaan, seperti perkosaan pada perempuan Tionghoa di bulan Mei 1998. Mbak Cha-cha, panggilan akrab Nisa Yuraa juga mengkritik negara yang tidak bijak dalam merespon tindak kekerasan seksual dengan mengeluarkan peraturan kebiri.

Liberty Studies mengirimkan Nadya Karima Melati untuk bicara dalam diskusi tersebut. Liberty Studies adalah studi klub yang membahas tentang ide kebebasan individu tingkat mahasiswa yang memiliki anggota beragam dari seluruh universitas di Indonesia. Nadya menjelaskan tentang budaya pemerkosaan dan moral panic. Keduanya berasal dari relasi timpang antara perempuan dan laki-laki. Moral panic menyumbat pendidikan seksual bagi penduduk Indonesia, sehingga pemberitaan oleh media perihal perkosaan dan kekerasan seksual selalu mengeksploitasi korban. Korban pun mengalami viktimisasi ganda, diperkosa berkali-kali oleh pelaku dan masyarakat. Moral panic dalam budaya permerkosaan di Indonesia membuat masyarakat Indonesia menyalahkan segala hal mulai dari pakaian perempuan, minuman beralkohol, kurangnya lapangan pekerjaan, hingga pola asuh orangtua, kecuali tindak perkosaan itu sendiri.

Mariana Amiruddin sebagai perwakilan dari Komnas Perempuan menjadi pemateri ketiga sekaligus terakhir yang menjelaskan bahwa reaksi yang dilakukan pemerintah terhadap kasus perkosaan yang diangkat tidak bijak. Masyarakat terjebak pada mitos perkosaan yang menganggap perkosaan terjadi karena birahi dan bukan karena ketimpangan relasi kekuasaan, sehingga Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (PERPPU) tentang hukuman kebiri menjadi hal yang sia-sia dan justru, menrugikan banyak pihak dan tidak efektif. Karena sering kali pemerkosaan tidak membutuhkan penis tetapi benda-benda lain. Mitos perkosaan juga menjebak masyarakat berpikir bahwa perkosaan dianggap seagai pelanggaran tindak asusila dan bukan tindak kriminal yang mencederai hak asasi manusia.

Diskusi dilakukan dengan sambutan antusiasme pengunjung. Sebelum itu, perwakilan mahasiswa dari Aceh, Bengkulu, dan Surabaya memberikan opininya terkait tindak kekerasan seksual yang terjadi pada wilayahnya masing-masing. Aceh, Bengkulu dan Surabaya merupakan tiga wilayah dengan angka kekerasan seksual tertinggi di Indonesia dan diharapkan para perwakilan mahasiswa mampu memberikan penjelasan dan rekomendasi yang sesuai dengan kondisi wilayahnya. Setelah orasi dan diskusi, duo Ari Reda tampil menutup acara malam itu dengan musikalisasi puisi-puisi Sapardi Djoko Damono yang syahdu.

Nadya Karima Melati

*Nadya Karima Meati atau juga dikenal dengan Nadyazura adalah mahasiswa Ilmu Sejarah Universitas Indonesia. Aktivis untuk isu gender dan seksualitas. Email: [email protected] dan @Nadyazura