Mengenal Ekonomi Pasar Sosial

Cerita    | 28 Mei 2016 | Read 1729 times
Mengenal Ekonomi Pasar Sosial

Lokakarya kebebasan mengenai ekonomi menjadi pengalaman baru bagi saya pribadi. Beberapa kali mengikuti kajian dan diskusi tentang isu-isu liberal, belum banyak yang saya pahami mengenai ruang lingkup liberal itu sendiri. Mulai Jum’at 13 Mei sampai Minggu, 15 Mei saya memperoleh kesempatan untuk mengikuti lokakarya yang diselenggarakan oleh Frederich Naumann Foundation For Freedom (FNF) Indonesia, Student for Liberty selaku pelaksana lokakarya, dan media partner www.suarakebebasan.org di Kota Bandung.

Banyak sekali pengalaman baru, pelajaran penting, dan jaringan baru tentunya yang saya dapatkan dalam kegiatan ini. Fasilitator yang kreatif dengan beberapa metode penyampaian materi yang ada menjadi salah satu nilai tambah bagi saya dalam mencerna materi yang disampaikan. Salah satu yang menarik bagi saya yaitu “Learning by discussion” yang menghidupkan forum.

Materi yang baik dengan pemaparan yang ringan dan forum yang hidup memotivasi saya untuk ikut berpendapat, berdebat, dan menawarkan solusi. Hal ini menjadi cara yang baik dan asyik bagi peserta dalam menangkap sari-sari materi yang disampaikan oleh pemateri. Selain memberikan pemahaman yang luas dan dalam, cara ini juga mampu membangun rasa ingin tahu peserta lebih jauh mengenai materi yang disampaikan.

Materi perdana disampaikan oleh dr. Deni Sanjaya tentang Kebijakan Kesehatan, sedangkan masukan utama tentang ekonomi pasar sosial disampaikan oleh Moh. Husni Thamrin dari FNF Indonesia mengenai tiga prinsip elmen ekonomi liberal, yaitu individualitas, solidaritas, dan subsidiaritas.

Bagi orang yang baru belajar mengenai ekonomi liberal seperti saya, sekilas tiga prinsip ini terlihat biasa saja. Namun setelah dipaparkan dengan jelas mengenai tiga prinsip tersebut baru terlihat bahwa masyarakat (society) memiliki kekuatan yang sebanding pemerintahan itu sendiri. Konsep ini juga menunjukkan adanya masyarakat yang mandiri, kreatif dan kompetitif.

Prinsip individualitas bertumpu pada hadir dan berkembang optimalnya kebebasan individu. Artinya, setiap individu pada dasarnya memiliki hak untuk kebebasan dirinya sendiri dan bertanggung jawab atas tindakan-tindakan yang dipilih oleh dirinya sendiri.

Prinsip solidaritas menunjukkan bahwa setiap individu hidup bergantung dengan individu yang lain. Artinya bahwa individu itu sendiri merupakan makhluk sosial yang dalam proses hidupnya pasti membutuhkan keterlibatan individu lain dalam hal apapun.

Kesalingtergantungan ini dimaksudkan untuk menghapus adanya ketidakadilan dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap individu memiliki tanggung jawab moral untuk saling membantu individu lainnya agar nilai keadilan dalam masyarakat dapat tercipta. Prinsip ini juga kemudian menjelaskan prinsip sebelumnya, bahwa kebebasan individu dibatasi oleh kebebasan individu lain.

Prinsip subsidiaritas adalah prinsip yang berkaitan dengan institusi atau pemerintahan, prinsip ini menunjukkan adalah tugas institusional pemerintah untuk menajamkan hubungan antara individualitas dan solidaritas. Pemerintah harus menjamin hak individu dan menempatkan sebagai prioritas utama, intinya apa yang dapat dilakukan oleh individu harus diserahkan kepada individu, dam tidak diambil alih oleh negara.

Tiga prinsip di atas menjelaskan bahwa dalam paham liberal, khususnya ekonomi sosial individu diberikan hak seluas-luasnya dalam pengembangan dirinya sendiri. Melalui kebebasan individu, masyarakat terdorong untuk mandiri dan kreatif satu sama lain, sehingga dengan sendirinya kompetisi antar individu terbentuk.

Semakin besar kompetisi dalam masyarakat, maka semakin tinggi pula nilai jual masing-masing individu, sehingga negara juga terkena dampak dari kemajuan masyarakatnya. Mungkin itu yang diharapkan dari paham ekonomi liberal yang saya pahami. Dari sini kita dapat membandingkan konsep ekonomi liberal yang ideal dengan keadaan yang sebenarnya di Indonesia.

Dalam membandingkan konsep liberal yang ideal dengan situasi yang ada di Indoneisa, fasilitator membentuk beberapa kelompok untuk menganalisis isu-isu terkini di Indonesia yang bertentangan dengan konsep ekonomi liberal. Sebenarnya banyak sekali isu yang patut untuk dikritisi dalam kacamata ekonomi liberal, namun karena keterbatasan waktu kami hanya diberikan empat isu.

Kelompok saya mendapatkan isu tentang asuransi kesehatan sosial melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Jauh sebelum adanya program BPJS sudah banyak program asuransi atau jaminan kesehatan swasta, hanya saja program jaminan swasta ini belum ramah terhadap masyrakat kelas bawah. Apabila dikaitkan dengan tiga konsep ekonomi liberal seharusnya permasalahan seperti ini tidak ditangani oleh negara.

Alasannya, selain tidak efisien, program-program seperti ini hanya memperkaya oknum-oknum dalam pemerintahan yang tidak bersih. Subsidi ini juga dapat merugikan anggaran negara (APBN), yang pada dasarnya APBN itu sendiri dikumpulkan dari pajak masyarakat. Pada intinya program subsidi yang sebenarnya ditujukan untuk membantu masyarakat ternyata justru merugikan masyrakat itu sendiri.

Secara umum, ekonomi pasar liberal dapat berjalan dengan baik apabila tiga prinsip ini sudah diterapkan dalam suatu negara. Tiga prinsip ini memang belum terealisasikan di Indonesia, karena beberapa segmen ekonomi pasar yang seharusnya dapat dikelola oleh individu seperti apa yang tergambarkan dalam tiga prinsip tersebut masih banyak yang diambil alih oleh negara atau pemerintah.

Campur tangan pemerintah yang begitu dominan dalam masyarakat juga menjadi hambatan besar bagi berjalannya ekonomi pasar sosial. Di akhir kegiatan ini, kami diperkenalkan dengan konsep-konsep dasar yang ada dalam paham liberal dan forum-forum pembelajaran tentang liberalisme. Mudah-mudahan di lain kesempatan saya dapat belajar lebih dalam mengenai liberalisme.

Anisa Hidayati

Anisa Hidayati, Mahasiwa Ilmu Politik FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Lahir pada 22 September 1993 di Tegal - Jawa Tengah. Saat ini sedang aktif di kajian Liberty Studies, Freedom Society dan aktif dalam organisasi l Ikatan Mahasiswa Tegal (IMT) Ciputat sebagai pengurus periode 2013-2014. Selain itu, Anisa juga sedang menggeluti usaha di bidang Public Relation and consulting di Jakarta.