Asia Liberty Forum: Faces of Freedom dan Tantangan Mendatang

Cerita    | 9 Mar 2016 | Read 1196 times  
Asia Liberty Forum: Faces of Freedom dan Tantangan Mendatang

Pada tanggal 18-20 Februari lalu telah berlangsung konferensi Asia Liberty Forum (ALF 2016) yang ke-4 di Kuala Lumpur, Malaysia. Tema yang diangkat tentang Advancing Liberty and Markets in Asia. Acara yang dihadiri oleh sekitar 250 peserta ini berasal dari 28 negara. ALF 2016 terselenggara berkat kerja sama Atlas Network-Amerika Serikat, Institute for Democracy and Economic Affairs (IDEAS) Malaysia, Center for Civil Society-India dan Friedrich Naumann Stiftung.

Acara dibuka dengan Welcoming Dinner dan sambutan dari Tricia Yeoh (IDEAS Malaysia). Dalam sambutannya, Tricia juga memperkenalkan layang-layang khas Malaysia yang disebut ‘wau’, yang menurut penjelasannya wau adalah simbol dan ekspresi kebebasan.

Kemudian dilanjutkan dengan penyampaian keynote addres oleh Dr. Tom G. Palmer dari Atlas Network. Dalam paparannya, Tom membawa tema “Kebangkitan Liberalisme” di Asia. Pertanyaan pembuka Tom: Is Asian liberty different from the Western liberty? Dalam paparan selanjutnya , Ia menjelaskan bahwa nilai-nilai kebebasan sudah ada di Asia sejak lama, mulai dari India bahkan juga Malaysia. Oleh karena itu, sikap pelbagai pihak di Asia yang menolak ide ini dengan dalih berasal dari Barat, tidak relevan. Pada akhir paparannya Tom mengajak semua hadirin berharap agar Asia menjadi rumah untuk kebebasan dengan nilai-nilai yang menjadi karakternya karena kebebasan Asia (Asian liberty) bukan hanya bagus untuk Asia, tapi juga peradaban manusia secara umum.

Faces of Freedom

ALF 2016 di hari kedua dan ketiga padat dengan berbagai panel dan diskusi paralel di beberapa ruangan. Sesi panel di hari kedua, mengangkat tema Faces of Freedom in Asia dan Rainer Heufers dari Centre for Indonesian Policy Studies (CIPS) mengawal sesi ini. Pertanyaan kunci yang diajukan Rainer ke semua panelis adalah kenapa mendirikan lembaga pemikir (think tank)? apakah karena mentorship? Terinspirasi oleh seseorang (figur)? Atau karena faktor keberadaan pasar think-tank dimana perilaku entrepreneurship menjadi penentu?

Pada sesi ini panelis terdiri Baladevan Rangaraju dari India Institute India; Dhanarath Fernando dari Advocate Institute Srilanka; Noor Amin Ahmad dari Institute for Leadership and Development Studies (LEAD) Malaysia; Basanta Adhikari from Bikalpa Nepal dan Rishi Kochhar dari Amritsar Policy Group India.

Sebelum makan siang juga diputar film dokumenter dari PovertyCure yang berjudul Poverty Inc. Film ini memperlihatkan bagaimana bantuan-bantuan asing untuk sebuah negara miskin jika dikelola tidak dengan hati-hati akan membuat negara tersebut menjadi negara ‘pengemis’. Maka yang perlu diperhatikan adalah bagaimana bantuan yang diberikan memancing kreatifitas masyarakat untuk membuka lapangan usaha dan menemukan pasar mereka sendiri guna meningkatkan kesejahteraan mereka. Hanya dengan cara inilah, impact dari bantuan yang diberikan akan berkelanjutan.

Sesi diskusi paralel di hari kedua meliputi tema-tema diantaranya: (1)TPP, TTIP. RCEP, AEC and Other Trade Deals: Are They Really Good for Developing Countries? (2) Using Networks for Leveraging Influence – Successful Collaborations with New Partners; (3) From Aid to Enterprise; (4) Liberty in the Muslim World; (5) The Role of Internet, Challenges to Liberty Online; and Scaling Liberty Through Academia.

Kegiatan ALF 2016 hari kedua diakhiri dengan freedom dinner dan penganugerahan Regional Liberty Awards. Pada kesempatan ini juga ada penyampaian rangkaian obituari dari pejuang kebebasan yang wafat sepanjang 2015-2016 (Tribute to the Lost Heroes of Liberty 2015-2016).

Dilanjutkan dengan Freedom toast yang disampaikan oleh Parth J Shah, National Independent Schools Alliance, India. Tema yang diangkat adalah tentang political freedom. Ia menawarkan definisi dari kebebasan politik yaitu kebebasan untuk memutuskan dari mana dan bagaimana pendapatan dan pajak atasnya dipergunakan untuk kebaikan bersama. Paparan ini menarik dan terjadi diskusi yang cukup hangat untuk topik ini. Pada malam kedua ini juga diserahkan ALF 2016 kepada Samriddhi Foundation, sebuah think tank bidang kebijakan publik di Nepal.

 

Tantangan Mendatang

Hari ketiga ALF 2016 diawali dengan pemutaran film India Awakes. Film yang disajikan dengan suasana riang dan bergembira ini diproduksi oleh Free to Choose Network. Film ini kurang lebih memperlihatkan bagaimana masyarakat dari kelompok marjinal mendapatkan manfaat dari reformasi pasar bebas di India. Barun Mitra dari Liberty Institute India yang memandu film ini mengatakan bahwa dunia ini akan berubah, dengan atau pun tanpa campur tangan kita. Namun, kita harus tetap waspada dan siap menerima segala perubahan dan pembaharuan. Dalam ranah kebijakan, kita perlu mendorong kebijakan untuk berubah.

Acara dilanjutkan dengan diskusi panel bertemakan Political Changes Across Asia-Are We Better or Worse Off?. Diskusi ini dipandu oleh Tom G. Palmer dari Atlas Network. Para panelis pada diskusi ini adalah Rajesh Jin dari Free a Billion India, Dato’ Steven CM Wong dari Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia, Kriengsak Chareonwongsak dari Institute of Future Studies for Development Thailand, dan Rohan Samarajiva dari LIRNEAsia Sri Lanka.

Setelah sesi panel dilanjutkan dengan sesi paralel. Untuk hari ketiga ini, sesi paralel di bagi ke dalam dua sesi dan tentunya dengan tema-tema yang tak kalah menarik dengan tema-tema diskusi paralel pada hari sebelumnya, yaitu (1) Protecting Yourself Againts Daylight Robbery – Current Challenge to Property Rights; (2) Measuring Policy Change: Why Indices Matter?; (3) Private School Revolution in Asia; (4) The Chinese Financial Crises and their impact on Asia; (5) The Rhetoric of Liberty-Shaping Opinions and Changing Mindsets in Challenging Environments; Building Evidence for Policy Change.

Di antara sesi paralel pertama dan kedua, dilangsungkan Elevator Pitch Competition. Peserta kompetisi ini adalah 20 peserta pelatihan Think Tank Star-up Training - yang berlangsung 15-18 Februari- dimana peserta pelatihan menyampaikan pidato singkat tentang organisasi mereka dalam kurun waktu 1 menit. Pemenang dari kompetisi ini adalah Yohannan Nair dari IDEAS (Malaysia) dan meraih hadiah sebesar 500 US Dollar. Diikuti pemenang kedua Sarwagya Raj Pandey dari Bikalpa (Nepal) dan ketiga Manogya Sharma dari Samriddhi, The Prosperity Foundation (Nepal), masing-masing mendapatkan hadiah sebesar 250 US Dollar.

Pada ALF 2016 juga dilanjutkan dengan sesi mentors rountable, dimana para peserta bisa berkonsultasi, berdiskusi dan berdialog secara langsung dengan beberapa mentor yang mumpuni di bidangnya, guna mendapatkan saran yang tentunya bisa diaplikasi di lembaga masing-masing.

Acara hari ketiga dan juga hari terakhir konferensi, ditutup dengan makan malam. Makan malam ini juga dipersembahkan dalam rangka memperingati ulang tahun Tunku Abdul Rahman, Perdana Menteri pertama Malaysia sekaligus ulang tahun ke-6 IDEAS Malaysia.

Forum seperti ALF ini sangat bermanfaat bagi setiap organisasi yang memiliki ketertarikan pada isu-isu kebebasan dan hubungannya dengan kebijakan publik. Lebih jauh, forum ini menjadi sarana refleksi bagi kerja-kerja lembaga selama ini, ajang saling bertukar pengalaman dan belajar untuk perbaikan, serta pengembangan lembaga ke depannya. Selain itu, pelbagai ide dan tema yang disajikan dalam bentuk serial panel dan diskusi membuat forum ini kaya akan informasi. Forum ini juga menarik karena ikut memfasilitasi maupun memperkuat jaringan untuk kerja-kerja lembaga yang peduli akan isu-isu kebebasan.

Lola Amelia

Lola Amelia adalah peneliti bidang sosial di The Indonesian Institute sejak Februari 2011. Pada bulan Februari 2014, selain sebagai peneliti, Lola juga diamanatkan menjadi Manajer Program TII. Lola tertarik mengkaji isu-isu sosial seperti, jaminan sosial, anak, perubahan iklim dan kemiskinan. Lola bisa dihubungi melalui email di [email protected] dan twitter @ameliaislola