Cerita Dari Asia Think Tank Start Up Training 2016

Cerita    | 9 Mar 2016 | Read 1345 times  
Cerita Dari Asia Think Tank Start Up Training 2016 Sumber Ilustrasi : doc.pribadi

ATLAS Network mengadakan event tahunan yang dinamakan “Asia Think Tank Start Up Training” (Asia TTST) bekerja sama dengan Center for Civil Society (CCS). Tujuan dari training ini adalah untuk memberikan pelatihan kepada pemimpin muda di Asia untuk mendapatkan panduan untuk mendirikan sebuah organisasi think tank di negara masing masing dan mengembangkan think tank tersebut. Acara ini diselenggarakan sebelum Asia Liberty Forum 18-20 Februari 2016, konferensi think-tank pendukung pasar bebas terbesar di Asia.

Saya adalah salah satu peserta yang beruntung karena diberikan kesempatan oleh ATLAS Network untuk lolos seleksi dan mengikuti Asia TTST ini sebagai perwakilan dari SuaraKebebasan.org. Asia TTST diikuti oleh peserta dari 17 organisasi di Asia dan dari 13 negara yang berbeda.

Satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah pertemuan dengan para aktivis, peneliti, penerjemah, juga manajer dari think tank yang berpengaruh di negara masing masing.

IDEAS Malaysia sebagai tuan rumah saat ini tengah membahas komisi anti-korupsi di Malaysia.  Saya juga bertemu dengan perwakilan dari PRIME, sebuah think tank di Pakistan yang baru-baru ini berhasil melakukan advokasi sehingga pemerintah Pakistan menandatangani IT agreement.

Ada juga dari TFF Thailand, yang telah berhasil membuat rekomendasi kebijakan inheritance tax dan diterapkan oleh Pemerintah Thailand. Dari Nepal, ada Bikalpa-an Alternative dan Samriddhi Foundation yang sedang memperjuangkan kebebasan ekonomi di wilayah timur Nepal.

Ada juga perwakilan Economic Freedom for Asia Institute yang sedang menggalakkan kampanye free-market di Jepang. Dari India ada India's Future Foundation yang telah berhasil menyelenggarakan pelatihan pengusaha-pengusaha muda yang punya semangat kekebasan. Lalu ada juga perwakilan dari Shalom Institute yang sedang memperjuangkan reformasi pasar di China. Saya juga bertemu dengan perwakilah Indonesia di sana: CIPS-Indonesia dan The Indonesian Institute, dan masih banyak lagi yang belum saya sebutkan.

Training ini dibuka oleh Tricia Yeoh dari IDEAS Malaysia. Pelatihan hari kedua dibuka oleh Wan Saiful dari IDEAS Malaysia yang menjelaskan tentang pentingnya think tank yang mempromosikan kebebasan di Asia.

Selanjutnya, peserta belajar tentang hal-hal yang paling dasar seperti bagaimana membuat visi, misi, dan value dari organisasi. Sesi ini dipandu oleh Manali Shah, seorang fasilitator independen dari India.

Selain itu, para peserta juga diberikan pelatihan tentang strategi komunikasi: bagaimana cara bekerja dan melakukan advokasi dengan pemerintah, bagaimana bekerja dengan jurnalis dan membangun relasi dengan media, serta cara mencetak pemimpin-pemimpin muda baru.  Sesi ini dipandu oleh tiga orang, yaitu Baladevan Rangaju (India Institute), Baishali Bomjan (CCS), dan Azrul Mohd (IDEAS Malaysia).

Pada hari selanjutnya, peserta diajarkan bagaimana membuat strategi fundraising, dari memetakan donatur yang potensial untuk think tank kita yang dimentori oleh Cindy Cerquitella (ATLAS Network), sampai bagaimana cara untuk melakukan pertemuaan dengan donatur oleh Siegfried Herzog (Friedrich Naumann Foundation) dan menjaga komunikasi dengan donatur oleh Robin Sitoula (Samriddhi Foundation).

Di hari terakhir, para peserta yang dipandu oleh Manali Shah diajak untuk mengevaluasi SWOT dari masing masing institusi dengan cara mempresentasikan SWOT institusi masing masing. Setelah itu para peserta yang lain menanggapi dan memberikan solusi dan input untuk institusi yang dipresentasikan.

Sesi selanjutnya yaitu persiapan kompetisi elevator pitch untuk Asia Liberty Forum. Setelah itu acara dilanjutkan dengan strategy test dengan cara konsultasi dengan Rainer Heufers, Robin Sitoula, Manali Shah, dan Cindy Cerquitella. Pada siang hari, Li Shoolland dari ISIL juga datang untuk menjadi salah satu fasilitator.

Terakhir, tentu saja pengalaman paling berkesan dan menegangkan adalah kompetisi elevator pitch yang diikuti oleh 23 peserta Asia TTST. Jadi, elevator pitch adalah kompetisi satu menit speech yang dipresentasikan di depan seluruh peserta Asia Liberty Forum, dimana Cindy dari ATLAS Network yang menjadi pemandunya.

Optimisme tumbuh semakin besar ketika menyadari bahwa ternyata di luar sana begitu banyak orang-orang yang melakukan hal-hal serupa: menyelenggarakan diskusi, pelatihan, menerjemahkan buku, sampai melakukan advokasi kebijakan dengan tantangan yang berbeda-beda. Dengan ini saya yakin, membuat masyarakat yang bebas dan sejahtera  bukanlah mimpi di siang bolong.

Iqbal Dawam Wibisono

Iqbal Dawam Wibisono adalah lulusan Ilmu Ekonomi Unpad. Saat ini Iqbal bekerja sebagai asisten peneliti di Center for Economics & Development Studies (CEDS), tim riset di Youth Freedom Network (YFN) dan aktif sebagai ketua Studium Veritatis, klub kajian dan diskusi ekonomi, sosial, dan politik di Bandung. Iqbal penah terlibat dalam penelitian sektor informal di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS bekerja sama dengan Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) juga terlibat dalam penelitian analisis kinerja pasar jasa penerbangan di Indonesia yang dilakukan oleh CEDS dan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU). Iqbal bisa dihubungi melalui email: [email protected]