Pertemuan Pertama Penulis Suara Kebebasan

Cerita    | 30 Nov 2015 | Read 1347 times  
Pertemuan Pertama Penulis Suara Kebebasan Kredit Foto: Dok. Redaksi

Redaksi SuaraKebebasan.org untuk pertama kalinya mengadakan pertemuan bagi para kontributor portal liberal ini. Acara ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ide dan menjalin silaturahmi dengan para penulis, sekaligus membentuk komunitas epistemik libertarian di Indonesia. Kegiatan ini diselenggarakan pada 28 November 2015 di Fave Hotel, Jakarta Selatan. Dalam acara ini hadir pula Rainer Heufers, pendiri Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) sebagai pembicara utama. Tidak hanya itu, acara juga diikuti dengan sharing session dan kesepakatan pembentukan komunitas epistemik dengan nama “Indo-Libertarian” dengan Haikal Kurniawan selaku Koordinator terpilih.

Acara dimulai dari pukul 10.00 WIB yang dibuka oleh Adinda Tenriangke Muchtar sebagai pemimpin redaksi Suara Kebebasan, selanjutnya acara dilanjutkan dengan presentasi dari Rainer yang berjudul ‘Advocating Freedom in Indonesia’. Kegiatan berlangsung secara interaktif antara pembicara dengan peserta. Rainer mengawali presentasinya dengan mengutip tulisan Friedrich A. Hayek dalam Road to Serfdom, yakni “The attitude of the liberal toward society is like that of a gardener who tends a plant and, in order to create the conditions most favorable to its growth, must know as much as possible about its structure and the way it functions.”  Kutipan itu yang membawa peserta ke ranah filosofis tentang arti liberal yang sesungguhnya. Hayek mengibaratkan sikap orang liberal layaknya tukang kebun (gardener) yang ingin menciptakan kondisi paling menguntungkan dengan syarat harus mengetahui sebanyak mungkin struktur dan caranya berfungsi. Logikanya, jika tidak secara intelektual tidak mumpuni, maka kemajuan itu akan mustahil dicapai.

Dan sudah tentu, kemajuan tadi hanya bisa dihasilkan apabila masyarakat hadir dalam kultur yang menghargai kebebasan, tanpa kebebasan, ide-ide brilian dan kreatif tidak akan muncul dengan cepat. Nah, mereka yang percaya pada doktrin ini tentu akan menghadapi tantangan dari mereka yang mengancam kebebasan ini. Hayek dalam ‘Road to Serfdom’ menyebutnya sebagai kredo negatif. Selain itu, Rainer juga menjelaskan pentingnya membangun kompetisi di dalam struktur ekonomi. Dengan mengutip Hayek, “By destroying competition in industry after industry this (anti-competition) policy puts the consumer at the mercy of joint monopolist action of capitalists and workers in best organized industries.” Hal ini sudah terbukti nyata dari sejarah masa lalu yang berkembang di era 1940=an. Logikanya, dengan adanya kompetisi, maka akan ada banyak pilihan yang dihadirkan kepada konsumen, dengan adanya ragam pilihan maka konsumen bebas untuk memilih pilihannya sendiri sesuai dengan keinginannya. Oleh karenanya, kompetisi yang kuat pada dasarnya membawa konsumen pada titik kepuasan. Bisa dibayangkan apa jadinya jika kompetisi tidak ada, dan hanya ada perilaku ekonomi yang monolistik? Oleh karena itu, salah satu kritik yang dihadirkan yakni kritik terhadap mereka yang melakukan perencanaan untuk menentang kompetisi.

Selanjutnya penjelasan Rainer yang tak boleh dilupakan adalah tentang apa yang disebut Frederic Bastiat sebagai “That Which Is Seen and That Which Is Not Seen.” Istilah ini cukup popular bagi mereka yang mendalami studi-studi tentang liberalisme klasik. Istilah ini menggambarkan perspektif hasil kebijakan yang lebih berorientasi kepada akibat yang ‘tidak terlihat’ ketimbang yang terlihat sebagai indikator penting untuk melihat berhasil atau tidaknya sebuah kebijakan. Bastiat menyebutnya sebagai “The Broken Windows Fallacy” atau logika sesat kaca pecah. Penulis akan menambahkannya berdasarkan analogi sederhana yang tertuang dalam karya Bastiat, The Law, bahwa ketika seorang anak kecil melempar kaca kaca jendela toko ayahnya, maka akibat yang terlihat adalah ayah, si pemilik toko akan memanggil tukang kaca untuk menganti kaca yang pecah. Untuk mengantinya, maka ayah mengeluarkan uang Rp. 100.000,-. Namun, akibat yang tidak terlihat adalah kesempatan sang ayah untuk membelanjakan uang Rp 100.000,- tersebut untuk membeli kebutuhan lain, misalnya untuk membeli sepatu. Industri kaca mendapatkan Rp. 100.000,- sedangkan industri sepatu kehilangan Rp. 100.000,- sehingga pecah atau tidak kaca itu tidak akan memiliki dampak positif terhadap perekonomian.

Bastiat selalu mengingatkan kepada pelaku ekonomi untuk lebih memperhatikan dampak yang tidak terlihat tersebut, karena dengan melihat dampak tidak terlihat tersebut, pelaku ekonomi akan lebih memikirkan kesempatan-kesempatan lain yang mungkin akan menguntungkan dirinya sendiri sekaligus berdampak positif pada perekonomian secara keseluruhan. Selain itu, dalam diskusi dengan para peserta kegiatan ini, Ardi Wirdamulia, Doktor Ilmu Manajemen Marketing dari FEUI, menyimpulkan pembahasan Rainer dengan menggarisbawahi pentingnya memastikan adanya salah satu poin ini dalam artikel untuk mempromosikan gagasan kebebasan di Indonesia. Pertama, government is bad. Kedua, entrepreneurship is good, dan ketiga, make a better solution.

Pembentukan Indo-Libertarian

Lebih jauh, pertemuan ini juga menghasilkan satu keputusan yang bersejarah, yakni dibentuknya klub menulis dan komunitas epistemic libertarian pertama di Indonesia, yang dinamakan “Indo-Libertarian.” Hal ini dimaksudkan untuk membangun jaringan di antara para kontributor Suarakebebasaan.org. Klub menulis ini diharapkan mampu untuk memacu para kontributor untuk lebih giat dalam memberikan kontribusi tulisan yang lebih tajam dengan perspektif libertarian dan memiliki story line serta pesan yang jelas di tiap paragrafnya. SuaraKebebasan.org percaya bahwa menulis adalah suatu kewajiban untuk regenerasi intelektual agar kedepan kita tidak kehilangan tokoh-tokoh yang menyemai ide-ide kebebasan sebagai suatu perspektif dalam membaca persoalan. Mereka yang hadir dalam kegiatan ini merupakan co-founder dari komunitas ini dan berkomitmen untuk berkontribusi mempromosikan kebebasan di Indonesia bekerjasama dengan SuaraKebebasan.org.

Selain itu, pertemuan ini juga menghasilkan rumusan program yang akan dilaksanakan di kemudian hari. Beberapa program yang akan dijalankan adalah capacity building, kajian dan publikasi hasil penelitian. Program ini diharapkan bisa menjadi wadah bagi kaum muda dan siapapun yang peduli dan berminat untuk mempromosikan kebebasan dengan menumbuhgenerasikan paham-paham liberal sebagai salah satu metode berpikir untuk menjadikan kehidupan umat manusia yang lebih sejahtera dan menghargai hak-hak individu. 

‘Indo-Libertarian’ bergandengan dengan SuaraKebebasan.org akan menjadi salah satu media dan jawaban dari tantangan untuk terus mengkampanyekan suara-suara kebebasan melalui kontribusi dari anak muda untuk anak muda pada khususnya, dan masyarakat pada umumnya.

Hendra Sunandar

Hendra Sunandar adalah lulusan program studi Ilmu Politik, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pria yang pernah menjadi Runner Up lomba debat dalam ‘Political Science Student Fair 2012 ‘ ini menulis skripsi dengan judul ‘Analisis Sistem Presidensialisme Multipartai di Indonesia: Studi Atas Divided Government dalam Relasi Eksekutif-Legislatif Pemerintahan Jokowi-JK’. Bisa dihubungi melalui [email protected] dan twitter @hendra_lfc