Print this page

Cerita Dari Jember: Diskusi Mengenal Libertarianisme Bersama Suara Kebebasan

Cerita    | 28 Nov 2015 | Read 1646 times  
Cerita Dari Jember: Diskusi Mengenal Libertarianisme Bersama Suara Kebebasan Kredit Foto: Dok. Redaksi

Sore itu hujan deras mengguyur Jember. Selasa, 24 November 2015. Tapi kelas 102 FISIP Universitas Jember begitu riuh dengan antusiasme diskusi dan bedah kumpulan esai Peace, Love, Liberty dari Tom. G. Palmer. Rofi Uddarojat sebagai editor SuaraKebebasan.org menyempatkan hadir sebagai pemateri dalam kesempatan itu.

Apakah perdamaian merupakan konsep yang utopis? Apakah manusia terlahir untuk berkonflik? Pertanyaan tersebut menjadi pertanyaan kunci dalam buku ini. Bagi Indonesia, gagasan liberalisme klasik penting untuk dipenetrasikan dalam isu perdamaian. Melalui inklusifitas berpikir, penting mengenalkan gagasan liberalisme dimulai dari tempatnya kaum-kaum terpelajar: kampus dan mahasiswa.

Dalam acara diskusi tersebut, Rofi memulai dari satu pertanyaan mendasar. Apa permasalahan yang paling mendasar dalam kehidupan kita? Tentu saja permasalahan sosial, ekonomi, politik. Kemiskinan, keadilan, kekerasan, menjadi satu perhatian khusus yang penting untuk dicarikan solusi. Liberalisme adalah jawaban bagi kejumudan yang terjadi dalam ruang lungkup sosial kita. Mengapa Amerika Serikat maju dalam kehidupan politik, ekonomi dan penegakan hukum? Mengapa negara-negara maju mampu membawa kehidupan sosialnya lebih baik dan sejahtera? Kebebasan individu, pasar bebas, hak kepemilikan dan pemerintah yang terbatas adalah alternative solusi yang disampaikan Rofi pada kajian sore itu.

 

Suara Kebebasan

 

Terdapat tiga pertanyaan dan tanggapan yang diajukan peserta dalam menanggapi materi yang telah disampaikan. Pertama, bahwa liberalisme masih belum bisa diterapkan di Indonesia melihat lemahnya daya saing produk Indonesia terhadap asing. Contoh kasusnya adalah perbandingan produksi di Tiongkok dan Indonesia. Tiongkok mampu menguasai pasar dunia karena faktor produksinya yang sangat baik. Sedangkan Indonesia masih belum mampu di ranah tersebut. Produktivitas barang di Indonesia masih lemah. Pemateri menanggapi pernyataan tersebut dengan membandingkan sistem birokrasi yang ada di Tiongkok dan Indonesia, bahkan dengan negara-negara maju lainya. Dalam argumentasinya, Rofi berpandangan bahwa peran negara dalam pasar perlu dikritisi untuk menuju kemajuan pasar. Namun ironi, selama ini masih  ada penghambat berupa birokrasi yang menghambat ekonomi kita untuk maju. Ketidakpastian kebijakan pemerintah yang akhirnya menghambat pasar untuk bersaing berdampak pada geliat usaha di Indonesia. Hal ini menghasilkan pasar yang tidak diberikan ruang untuk bekerja secara leluasa dalam mencapai kesejahteraan.

Argumen kedua adalah bahwa liberalisme selama ini sudah diterapkan di Indonesia. Ini terlihat dari sektor pasar dan kebebasan demokrasi di Indonesia. Pemateri melakukan counter argument, bahwa penerapan liberalisme di Indonesia masih sangat terbatas dan tidak diterapkan secara total seperti negara-negara yang sudah maju lainya. Jika di negara-negara maju telah mempercayakan berjalanya mekanisme pasar dengan asas laissez faire di Indonesia, negara masih terlalu dominan untuk mengatur. Tentunya kita perlu optimis dengan penerapan sepenuhnya liberalisme di Indonesia untuk mencapai perbaikan di segala sisi kehidupan.

Argumen ketiga adalah skeptisme terhadap ideologi liberal versus ideologi pancasila. Indonesia selama ini telah menganut ideologi Pancasila dalam kehidupan sosial, ekonomi, politik. Namun relevankah, jika paham liberalisme dipenetrasikan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat Indonesia jika dibenturkan dengan Pancasila? Pemateri menjelaskan, selama ini Pancasila merupakan nilai-nilai yang dibentuk dari ideologi sosialis. Selama ini, Pancasila hadir sebagai representasi dari paham sosialis, termasuk dalam hal ekonomi. Jika direlevansikan dengan perkembangan zaman, ekonomi sosialis pun sudah tidak mampu menjawab tantangan globalisasi. Bahkan Tiongkok, dengan ideologi komunisnya dalam sistem pemerintahan tidak mampu menerapkanya pada sistem perekonomianya. Tiongkok pada akhirnya memilih jalan liberal kapitalis untuk ekonominya. Dan nyatanya terbukti sukses mengantarkan negara ini pada penguatan ekonomi.

 

Suara Kebebasan

 

Karena keterbatasan waktu, diskusi sore itu harus diakhiri dengan segudang pertanyaan dan skeptisme yang lebih besar. Sekali lagi, liberalisme menawarkan diri sebagai jalan perbaikan bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia. Implementasinya harus mampu melebur dengan realitas sosial yang kini dihadapi Indonesia. Setidaknya bangsa Indonesia akan berubah menjadi bangsa yang lebih bermartabat dan lebih menghargai eksistensi individu demi mencapai kebahagiaan. Life, liberty, and pursuit of happiness.

Arofatin Maulina Ulfa

Arofatin Maulina Ulfa adalah mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jember. Ia aktif di HMI cabang Jember komisariat FISIP. Arofatin menaruh minat terhadap kebebasan dan demokrasi. Bisa dihubungi di [email protected]

FaLang translation system by Faboba