Generasi Muda Indonesia Menghadapi Ekonomi Pasar Bebas

Cerita    | 24 Agu 2015 | Read 7489 times  
Generasi Muda Indonesia Menghadapi Ekonomi Pasar Bebas Sumber Ilustrasi: Post-gazette.com

Pasar Bebas semakin dekat di hadapan kita. Salah satu yang teraktual kita hadapi adalah Masyarakat Ekonomi ASEAN (selanjutnya disebut MEA) yang akan dimulai akhir tahun 2015 ini. AEC sendiri dibentuk untuk meningkatkan kesejahteraan dan menghapus kemiskinan. Dengan adanya MEA, maka akan terbentuk suatu pasar tunggal berbasis produksi, sehingga arus barang, jasa, modal, hingga mobilitas manusia akan semakin deras dan bebas hambatan. Jadi, siap atau pun tidak, pasar bebas akan menjadi kenyataan dalam segera.

Dan generasi muda indonesia memiliki posisi penting dalam konteks ini. Data MP3EI menyatakan jumlah manusia dengan usia produktif mencapai 60% jumlah penduduk. Ini berarti setelah masa banjir pertanian (kopi, teh), banjir minyak, banjir sumber daya mineral di masa lampau, kita sekarang dapat momentum banjir manusia berusia produktif. Potensi ini penting sebagai keunggulan komparatif Indonesia untuk bersaing dalam percaturan di tingkat regional dan global. Selain itu, fakta ini menandaskan bahwa generasi muda Indonesia dengan jumlah dominannya jelas punya posisi kuat menentukan langkah Indonesia di masa mendatang. Langkah ini diambil terutama lewat pilihan dan tindakan para generasi muda.

Sebagai contoh, pilihan untuk memilih gawai (gadget) yang akan dibeli. Bayangkan, dengan perkiraan kasar ada hingga 150 juta orang Indonesia berusia produktif andaikan saja memilih satu gawai yang sama, akan memberikan kekuatan kapital dan pengaruh yang begitu besar terhadap perusahaan tersebut. Dengan kondisi ini, bagaimanakah cara generasi muda Indonesia menyikapi pasar bebas?

Peluang dan Tantangan Pasar Bebas

Pasar bebas jelas memberikan peluang kemajuan dan kesejahteraan bagi negara yang mau menerapkannya. “China berhasil mencapai kesuksesan dan pertumbuhan ekonomi yang tinggi sejak mereka menerapkan sistem ekonomi pasar,” papar Arief Anshory Yusuf, Direktur Center for Economics and Development Studies (CEDS), Universitas Padjajaran, Bandung. Dan ini dipertegas dengan fakta juga bahwa banyak sekali negara menerapkan sistem ekonomi yang terbuka.

Salah satu muatan pasal Konstitusi Republik ini juga memberikan arah yang sinergis dengan sistem ekonomi pasar. Pasal 33 ayat (4) UUD ’45 menyatakan bahwa “Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional.” Rumusan pasal ini menjelaskan bagaimana pentingnya efisiensi dalam penyelenggaraan ekonomi.

Selain itu, jelas sistem ekonomi pasar berhasil menurunkan tingkat kemiskinan suatu negara. Sebagai bukti, tampak bahwa tingkat kemiskinan di Indonesia terus menurun dalam beberapa tahun terakhir.

Peluang-peluang itu jelas memberikan angin segar bagi Indonesia yang akan segera menghadapi era integrasi pasar terdekat (MEA). “Namun, ada tantangan-tantangan yang harus diwaspadai,” tukas Ekonom Arief Anshory. Keempat tantangan tersebut adalah sebagai berikut. Pertama, lesunya ekonomi. Kedua, penurunan kemiskinan yang melambat. Ketiga, stagnasi pertumbuhan, yaitu local economic fragmentation dan global economic marginalization. Keempat, kurangnya sumber daya manusia berkualitas. Masing-masing dampak dari situasi ini bisa berdampak terhadap tidak berkembangnya perekonomian sebaik sebagaimana direncanakan.

Keempat tantangan tersebut juga bisa dibilang diperburuk dengan kabar kebijakan pemerintah Indonesia yang tidak ideal. Sebagai contoh, Indonesia tampak tidak pro-poor melalui kebijakan ekonomi yang lebih berorientasi sumber daya alam dan jasa. Padahal penyerapan tenaga kerja yang besar lebih tampak pada industri manufaktur. Selain itu, alokasi pajak masih banyak yang tidak tepat.

Untuk mengatasi ganjalan-ganjalan tersebut, ia menyarankan perlu adanya “transformasi” dalam roda sistem pemerintahan negeri ini. Dan titik transformasi paling utama tersebut utamanya ada di pemerataan kesempatan bagi semua pihak untuk akses terhadap pendidikan serta kesehatan. Dengan akses yang merata, maka akan lahirlah generasi-generasi muda Indonesia yang penuh dengan inovasi dan terobosan. Inovasi adalah kunci dari pertumbuhan ekonomi.

Kebebasan dan Pengentasan Kemiskinan

Kebebasan sendiri memiliki dampak yang penting bagi pengentasan kemiskinan. “.. yang paling tidak dimiliki orang miskin itu adalah freedom (kebebasan). Kemiskinan menjerat orang-orang untuk itu. Untuk bergerak dari satu tempat ke tempat lain, misalnya kan butuh ongkos,“ ungkap Muhamad Iksan, Redaktur Pelaksana Suara Kebebasan. Dan kajian yang lebih mendalam tentu dapat dilihat dalam buku Amartya Sen, “Development as Freedom”.

Kebebasan dan keterbukaan penting menjadi pilihan bagi suatu negara berkenaan dengan ungkapan dari Milton Friedman ini: “The society that puts equality before freedom will end up with neither. The society that puts freedom before equality will end up with a great measure of both”. Tentunya kita tidak akan memilih kembali ke era dimana kebebasan aspirasi sendiri menjadi sulit di negeri ini.

Itulah sebabnya sistem ekonomi yang lebih terbuka memang harus didorong di Indonesia sejalan juga dengan efisiensi. Berkenaan dengan pasar ASEAN, Indonesia harus lebih meningkatkan efisiensi agar tidak semata-mata dibanjiri saja oleh produk-produk luar.

Ia menekankan ada beberapa masalah yang harus dibenahi jika Indonesia mau menatap pasar bebas dengan lebih pasti. Ada beberapa masalahnya. Pertama, kekurangan di sektor sumber daya manusia ahli. Kedua, pengeluaran subsidi yang tidak tepat. Padahal seharusnya lebih ke subsidi yang mendorong inovasi dan kreativitas. Ketiga, permasalahan daya saing yang rendah. Salah satu sektor penting untuk dibenahi agar bangsa ini bisa bersaing adalah sektor pendidikan, infrastruktur, pembenahan institusi, dan sebagainya.

Menjadi Pasar bagi Negara Maju

Tidak semua pandangan melihat bahwa sistem ekonomi terbuka akan membawa keuntungan bagi kita. Industri hiburan Hollywood, misalnya memang menunjukkan bagaimana industri hiburan bisa menjadi kekuatan ekonomi yang begitu besar berkat globalisasi. Tak terasa begitu gampang kita melihat karya-karya hebat sineas luar di Indonesia. “Globalisasi memang menipiskan batas-batas dunia nyata,” terang Ade Armando, Dosen Fisip Universitas Indonesia. Kekuatan ini juga yang membuat terciptanya global brand di era kekinian. McD, Starbucks, Apple, Google adalah ikon-ikon merek dunia.

Dan pemahaman ini bisa membuat kita menyadari bahwa sesungguhnya pasar dunia telah tercipta. Keterbukaan arus lalu lintas barang, jasa, orang memang benar-benar telah terjadi. Disinilah kita harus tetap kritis. Kembali ke contoh industri hiburan tadi, terlepas dari tayangan yang memang berkualitas dan menarik, kita harus sadari bahwa sejatinya di situ juga terjadi proses pembentukan. Pembentukan nilai-nilai dan budaya yang sama sebagai hasil interaksi pemirsa dan film, serta dalam lingkup yang lebih besar merupakan pembentukan pasar. Jadi, dengan terus terlena untuk mengonsumsi produk pasar luar, kita tanpa sadar dengan setuju menjadikan diri kita pasar bagi negara maju.

Padahal tidak seharusnya kita ikut terus dengan pengaruh luar. “Kita bisa mandiri”, tukas Ade Armando. Di akhir pernyataannya dia menyimpulkan bahwa menyikapi kecenderungan negara berkembang mencontoh negara maju untuk kesejahteraan bagi masyarakat yang menerapkannya, “yang seharusnya ditiru masyarakat kita adalah tahapan (mereka) sebelum maju.”

Akhirnya, harus ada garis bawah dalam diskursus mengenai generasi muda menyongsong pasar bebas ini. Terlepas dari apakah prinsip, nilai, atau bahkan keyakinan akan kebebasan ini akan membawa keberkahan yang lebih besar lagi bagi Indonesia di masa mendatang, generasi muda harus menunjukkan kontribusinya. Dengan berdaya serta berinovasi, akan lahir terobosan-terobosan yang bisa membawa negara ini ke tempat yang lebih tinggi di masa depan. Suka tidak suka, pasar bebas telah dan akan datang sebentar lagi. Dan harapannya tentu kita akan berjuang dan bekerja sebaik mungkin untuk mengejar cita-cita negeri ini agar tidak ada lagi kemiskinan dan kesenjangan, sehingga, Indonesia yang adil, makmur, dan sejahtera bisa terwujud bagi segenap seluruh penduduknya.

Tulisan ini merupakan hasil diskusi yang diadakan oleh Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Bandung bekerja sama dengan Youth Freedom Network (YFN) dengan tema: “Generasi Muda Indonesia Menghadapi Ekonomi Pasar Bebas” pada hari Selasa,28 Juli 2015 di Wisma Sejahtera, Jl. Ir. H. Djuanda No. 109, Bandung.

Ericko W. Sinuhaji

Ericko W. Sinuhaji adalah pemuda yang baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi hukum-nya di salah satu perguruan tinggi negeri di Indonesia. Untuk menghubunginya bisa melalui alamat gmail: [email protected] atau akun twitter @erickosinuhaji