Bertemu Pembela Kebebasan Seluruh Dunia di Asia Liberty Forum 2015

Cerita    | 17 Mar 2015 | Read 1803 times  
Bertemu Pembela Kebebasan Seluruh Dunia di Asia Liberty Forum 2015 Kredit Foto: Dok. Redaksi

Lima Januari 2015 merupakan awal perjalanan saya menuju Kathmandu, Nepal. Nepal merupakan sebuah negara di wilayah asia selatan yang cukup jarang terdengar keberadaannya oleh orang-orang di Indonesia. Banyak orang Indonesia berpikir Nepal merupakan sebuah negara dimana Dalai lama tinggal, atau sebuah kota warisan tua dari “Avatar Aang.” Saya di hari itu berangkat dari Soekarno Hatta pukul 11.15 menuju Kuala Lumpur, Malaysia untuk transit beberapa jam, hinggal pukul 16.00 saya kembali mengudara menuju Kathmandu, sebuah kota diatas awan.

Keberangkatan saya menuju Kathmandu kali ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat mengesankan. Kesempatan kali ini diberikan oleh banyak aktivis liberalisme di Indonesia yang ingin melakukan regenarasi dengan memberangkatkan kaum muda untuk hadir dalam sebuah pertemuan NGO, Pemerintah, dan Partai Politik yang memperjuangkan ide kebebasan dan rasionalitas di seluruh Asia. Pada awalnya Center for Civil Society sebagai penyelenggara menginginkan hadirnya beberapa orang representasi NGO liberal di Indonesia untuk hadir dalam beragam kegiatannya di Kathmandu.  Namun seperti yang biasa dimaklumi di negara kita, pembiayaan bukan perkara mudah untuk mengikuti sebuah kegiatan Internasional bagi anak muda. Saya sempat pesimis awalnya dengan ketiadaan pembiayaan ini untuk keberangkatan saya ke Kathmandu. Namun pesimisme ini akhirnya dapat diatasi oleh investasi Reiner Heufers, seorang yang mengenal Indonesia dan membentuk NGO yang bernama SIAP Solution di Singapre dan Indonesia, demi merealisasikan kehadiran representasi masyarakat liberal Indonesia di forum Internasional.

Tanggal 5 Januari saya berangkat menuju Kathmandu dan mendarat di kota tersebut pada tanggal 6 Januari, tepat di hari selasa. Kathmandu di awal kedatangan saya merupakan kota yang sangat dingin namun memiliki penduduk yang sangat hangat. Hal ini saya buktikan dengan perbincangan saya dengan sopir taksi yang mengantar saya ke hotel dimana saya menginap untuk acara pertama. Keingintahuannya tentang rokok Indonesia membuat perbincangan saya dan sopir taksi cukup menyenangkan dan memudahkan saya untuk berbaur dalam pembicaraan.

Kegiatan pertama dalam rangakaian kegiatan saya di Kathmandu adalah permulaan dari ATLAS Leadership Academy. Sebuah akademi yang dibangun oleh ATLAS Network, sebuah NGO Internasional yang bergerak pada isu-isu pendorongan perkembangan NGO-NGO liberal di seluruh dunia.  Kegiatan ini juga berdampingan dengan Asia Start-up Think Tank Training, sebuah training yang diwujudkan untuk seluruh Think Tank di Asia untuk meningkatkan kemampuan dan kapabilitasnya sebagai Think Tank di negara masing-masing dalam mewujudkan perubahan sosial politik dan ekonomi yang lebih baik.

Para peserta dalam kegiatan pertama ini cukup beragam, ada yang dari India, Nepal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, China, Malaysia, Turki, dan negara lainnya. Hampir keseluruhan peserta adalah seorang Doktor, Master dan profesional journalist dalam bidang manajemen, ekonomi, atau politik. Hanya saya saja yang kurang beruntung menjadi satu-satunya peserta yang masih menulis skripsi di BAB V. Dengan background peserta yang demikian, pada awalnya saya adalah peserta yang dapat diidentifikasi mengalami “Minder struktural”. Namun dalam dinamika yang berlangsung selama training, ternyata cukup mengasyikkan bagi saya dan menjadi ajang untuk terus belajar. Banyak peserta yang membantu saya untuk memahami dan bahkan berdialog dengan cair dengan saya, baik ketika berlangsungnya training maupun ketika makan malam dan kegiatan informal lainnya. Hal ini memberi saya kesempatan untuk menambah wawasan saya.

Training yang berlangsung selama 3 hari memiliki beberapa program yang sangat membantu para peserta untuk memahami dan memberi petunjuk teknis dalam mengatur sebuah Think tank atau organisasi sipil. Perkenalan pertama dalam training ini dimulai dengan mengenal Organisasi masing-masing, ide yang dibawa, kekurangan dan kelebihan organisasi, hingga misi yang ingin dicapai. Di hari kedua beberapa materi mengenai komunikasi menjadi isu utama yang dibahas dan dilatih dengan keras. Dihari tersebut bahkan setiap peserta diberi kesempatan untuk berlatih membuat dan menyampai elevator speech yang baik dalam menyampaikan gagasan dan mengenalkan organisasi peserta di suatu forum atau khalayak banyak. Di hari ketiga, isu utama yang dibahas adalah mengenai cara menghasilkan dan meraih pendanaan yang baik dalam menjalan kegiatan dan program dari masing-masing organisasi. Fundraising menjadi isu yang sangat penting dalam menjalankan suatu organisasi karena permasalahan utama yang selalu dihadapi oleh organisasi sipil di Asia adalah isu-isu pendanaan.

Asia Liberty Forum merupakan kegiatan terakhir dalam rangkaian kehadiran saya di Kathmandu. Asia Liberty Forum merupakan kegiatan yang ditujukan untuk mengumpulkan seluruh aktivis liberal di seluruh dunia. Selama dalam mengikuti rangkaian kegitan Asia Liberty Forum, banyak saya temukan para aktivis kebebasan dari seluruh dunia dan saling berbincang mengenai perkembangan ide kebebasan dan rasionalitas pemerintahan di negara masing-masing. Dalam setiap pembicaraan saya dengan delegasi negara lain, saya selalu menemukan refleksi kehilangannya representasi-representasi gerakan liberalisme di Indonesia, terutama yang terdiri dari kalangan muda. Bukan hanya untuk mempromosikan ide, tapi juga mengkritik ide liberalisme yang telah ada di Indonesia saat ini. Kehilangan representasi itu mudah saja diidentifikasi, bukan melalui keberadaan organisasi atau lembaga-lembaga sebagai indikator utama, tapi melalui pemahaman masyarakat muda Indonesia mengenai apa itu liberalisme? sejauh mana liberalisme kita pahami melalui literatur-literatur induknya. Liberalisme di Indonesia masih saja didefinsikan secara stereotyping, bukan atas definisi rasionalnya.

Semoga perjalanan di Kathmandu ini memiliki manfaat bagi saya dan bagi seluruh yang mendukung saya dalam mengembangkan liberalisme di Indonesia untuk Indonesia yang lebih baik dimasa depan.

Muhammad Luthfi

Pendiri University of Indonesia Liberalism and Democracy Study Club (UILDSC) dan mahasiswa Ilmu Politik Universitas Indonesia. Pernah mengikuti pelatihan ATLAS Leadership Academy. Bisa dihubungi melalui e-mail: [email protected] twitter: @luthfinomics