Pengalaman Mengikuti Atlas Think Tank Essentials 2019

Cerita    | 10 Mar 2019 | Read 115 times
Pengalaman Mengikuti Atlas Think Tank Essentials 2019

Mendirikan serta mengerjakan proyek untuk lembaga think tank bukanlah sesuatu yang mudah. Untuk mencapai hal tersebut, selain tim yang kuat, kita juga harus memiliki visi dan misi yang jelas dan kuat mengenai harapan apa yang ingin kita capai ke depan, serta bagaimana cara menggapai harapan tersebut.

Untuk itulah, pada tanggal 25-27 Februari kemarin, saya berkesempatan menjadi partisipan di salah satu workshop yang diorganisir oleh lembaga Atlas Network di Kolombo, Sri Lanka. Atlas Network sendiri merupakan organisasi non-profit yang bermarkas di Amerika Serikat, yang berkegiatan untuk mempromosikan pasar bebas serta membantu berbagai kelompok dan organisasi di banyak negara untuk menanamkan nilai-nilai liberalisme. Suara Kebebasan sendiri merupakan salah satu organisasi mitra Atlas di Indonesia.

Tema besar yang diangkat dalam workshop yang diadakan di Hotel Hilton Sri Lanka tersebut adalah mengenai Think Tank, mulai dari bagaimana cara membuat visi misi yang jelas dan kuat, hingga bagaimana cara mendapatkan donor untuk membiayai proyek yang ingin dikerjakan.

Sesi pertama dalam workshop ini membahas mengenai visi dan misi, yang difasilitasi oleh Wakil Presiden Atlas Network untuk Kegiatan dan Pelatihan, Lyall Swim. Sebelum membahas mengenai tema visi dan misi, para peserta dibagi menjadi 5 kelompok yang beranggotakan 5 orang untuk masing-masing tim. Setiap tim akan diberikan satu isu untuk dijadikan simulasi proyek think tank yang nantinya akan dipresentasikan di dalam workshop.

Kelompok saya mendapatkan tema mempopulerkan gagasan liberalisme kepada publik. Kami pun membuat proyek website interaktif dimana para kandidat calon wakil rakyat dapat berinteraksi dengan konsituennya. Di website tersebut kita juga bisa melihat posisi politik yang dimiliki oleh kandidat tersebut, serta memberi ukuran kandidat mana yang membawa platform yang paling mendekati dengan gagasan liberalisme, baik dari isu sosial maupun ekonomi.

Memasuki sesi pembahasan, Swim menjelaskan bahwa secara konseptual, visi dan misi merupakan dua hal yang berbeda. Visi merupakan harapan kita mengenai harapan yang ingin kita capai di masa depan, sementara misi merupakan cara untuk menggapai visi tersebut.

Swim memberi contoh visi dan misi yang dimiliki oleh Atlas Network.  Visi dari Atlas Network adalah untuk mewujudkan dunia yang bebas, damai, dan sejahtera dimana adanya pemerintahan yang terbatas yang berfungsi untuk menegakkan kedaulatan hukum dan pasar bebas, serta melindungi hak kepemilikan pribadi.

Untuk membuat visi yang baik harus ada beberapa hal yang diperhatikan. Beberapa diantaranya adalah pernyataan dari visi tersebut harus menggambarkan hal ideal di masa depan, singkat dan padat, spesifik dan tidak melebar kemana-mana, serta harus mampu menginspirasi orang lain untuk bertindak.

Sementara itu, misi dari Atlas Network adalah untuk meningkatkan kesempatan serta kesejahteraan dengan cara menguatkan jaringan gloal organiasasi sipil yang mempromosikan kebebasan individu, serta berjuang untuk menghapuskan berbagai batasan yang dapat menghalangi perkembangan manusia.

Untuk membuat misi yang baik juga harus memperhatikan beberapa hal. Diantaranya adalah, harus bersifat spesifik mengenai apa yang nantinya akan diraih, siapa saja yang akan meraih tujuan tersebut, bagaimana cara meraih tujuan tersebut, serta alasan mengapa tujuan tersebut harus dicapai.

Pada hari kedua, salah satu yang menjadi pembicara adalah Ravi Ratnasabapathy dan Anuki Premachandra dari lembaga think tank liberal Sri Lanka, Advocata Institute. Mereka memaparkan salah satu keberhasilan proyek yang dilakukan oleh Advocata, yakni memotong pajak produk-produk kewanitaan seperti pembalut, serta produk popok bayi, dari 101% menjadi 66%. Salah satu langkah yang membawa keberhasilan tersebut adalah penggunaan sosial media seperti Twitter yang dilakukan oleh Advocata untuk melakukan kampanye masif menentang kebijakan pajak tinggi tersebut.

Dengan menargetkan kaum perempuan, Advocata berhasil membuat gerakan masif di Sri Lanka melawan kebijakan pajak tersebut. Sebelum Advocata melakukan kampanye publik, hanya sangat sedikit orang yang mengetahui bahwa produk-produk impor untuk perempuan dan bayi di Sri Lanka dipajaki sedemikian tinggi, yang tentunya atas dorongan produsen lokal untuk menghalau kompetisi. Dan langkah yang dilakukan Advocata tersebut berhasil mengambil perhatian publik dan media massa.

Selain itu, Ratnasabapathy dan Premachandra juga menjelaskan bahwa, keuntungan terbesar melakukan kampanye publik menggunakan media sosial adalah hal tersebut dapat berlangsung dengan sangat cepat dan masif. Para produsen lokal tidak menyangka bahwa media sosial dapat digunakan untuk membuat kampanye publik semasif itu, dan mereka juga tidak memiliki waktu untuk melobi pemerintah untuk tidak memotong pajak untuk produk impor. Oleh karena tekanan publik yang sangat besar, akhirnya pemerintah Sri Lanka mengambil langkah untuk memotong pajak tersebut.

Di hari terakhir, yang menjadi pembicara adalah Dr. Tom G. Palmer yang merupakan Wakil Presiden Eksekutif Atlas Network untuk Program Internasional. Dalam sesi ini, Dr. Palmer membahas mengenai fundraising serta cara-cara untuk mendapatkan dana untuk proyek yang akan kita lakukan.

Dr. Palmer menjelaskan bahwa, donor bukanlah bos, tuan, atau atasan melainkan merupakan mitra dan/atau pelanggan. Menjalankan proyek think tank  itu merupakan kegiatan bisnis, dimana lembaga think tank tersebut berperan sebagai produsen, serta donor merupakan pelanggan.

Meminta dana kepada donor untuk proyek yang akan kita jalankan bukanmerupakan bentuk meminta-minta dengan harapan mendapatkan belas kasihan. Meminta dana kepada donor merupakan bentuk jual beli, dimana kita sebagai produsen menawarkan produk berupa proyek yang akan kita jalankan kepada pelanggan kita, yakni donor.

Oleh karena itu, proyek yang kita tawarkan kepada donor juga harus membawa manfaat bagi pelanggan kita. Dr. Palmer menjelaskan bahwa manfaat yang dirasakan oleh donor ketika membeli produk kita dengan cara membiayai proyek yang kita lakukan adalah rasa bangga menjadi bagian dari hal yang memang mereka yakini merupakan sesuatu yang penting. Bahwa donor tersebut, baik perusahaan maupun individu, turut ikut serta berperan untuk mewujudkan dunia yang lebih baik, dimana kebebasan dijunjung tinggi dan kesejahteraan dapat dirasakan oleh semua lapisan masyarakat.

Selain itu, sangat penting diperhatikan ketika kita membuat rencana pengajuan dana kepada donor, harus dilakukan secara jujur dan spesifik. Kejujuran merupakan hal yang sangat penting untuk menjaga relasi yang panjang dengan donor tersebut, serta spesifik berarti kita harus meuliskan target serta poin-poin yang jelas, objektif, dan terukur untuk mellihat dan mengevaluasi proyek yang akan kita lakukan.

Sebagai penutup, mengikuti program workshop Think Tank Essentials Atlas Network merupakan salah satu pengalaman yang luar biasa, dimana saya bisa belajar banyak hal dalam menyusun strategi serta menjalankan project think tank yang akan saya lakukan kelak. Menjalankan project think tank bukanlah sesuatu yang semudah membalikkan telapak tangan. Ada banyak langkah, usaha, serta strategi yang harus diperhatikan dan dijalankan untuk mensukseskan proyek tersebut.

Namun, apabila kita sudah membuat visi misi yang jelas, mengetahui manfaat yang dapat dirasakan oleh banyak anggota masyarakat akan project yang dijalankan, serta mendapat dukungan finansial yang cukup, maka hal tersebut merupakan kunci bagi keberhasilan proyek yang kita lakukan. Hal itulah yang saya dapatkan melalui wokshop Atlas Network tersebut.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]