Pengalaman Mengikuti Asia Liberty Forum 2019

Cerita    | 9 Mar 2019 | Read 291 times
Pengalaman Mengikuti Asia Liberty Forum 2019

Pada tanggal 28 Februari - 1 Maret lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk menjadi salah satu partisipan dalam acara Asia Liberty Forum (ALF) 2019 di ibukota Sri Lanka, Colombo. Acara yang rutin diadakan seetiap tahun ini, merupakan salah satu acara forum regional yang diselenggarakan oleh organisasi pegiat liberalisme dari Amerika Serikat, Atlas Network, yang membahas berbagai topik politik, sosial, dan ekonomi di wilayah Asia.

Saya mengikuti Asia Liberty Forum bertepatan setelah workshop Atlas Think Tank Essentials yang memang secara rutin diadakan sebelum setiap acara forum regional Atlas, mewakili Suara Kebebasan. ALF kali ini merupakan ALF ketiga yang saya datangi, setelah di Kuala Lumpur pada tahun 2016, dan di Jakarta pada tahun lalu.

Sebagaimana acara ALF yang diselenggarakan sebelumnya, Atlas selalu menarik mitra organisasi lokal untuk bekerja sama menyelenggarakan acara tersebut. Untuk ALF kali ini, Atlas bekerja sama dengan Advocata Institute, yang merupakan organisasi think tank liberal yang berbasis di Colombo.

Pada hari pertama, acara diawali dengan kegiatan speed networking. Namun, berbeda dengan acara sebelumnya, di ALF tahun-tahun lalu speed networking dilakukan dengan cara dua peserta yang tidak saling mengenal berkenalan selama satu menit dan setelah waktu habis berpindah ke orang lain. Di ALF tahun ini, speed networking dilakukan dengan cara membentuk kelompok beranggotakan 4 orang dan saling berkenalan satu sama lain.

Saya berkelompok dengan seorang mahasiswi dari Sri Lanka, pengusaha dari Amerika Serikat, serta seorang aktivis dari Iran. Kami pun saling bercengkrama dan bertukar pengalaman seputar kegiatan yang kami lakukan dalam menyebarkan gagasan liberalisme di negara masing-masing.

Ada beberapa hal menarik dari perbincangan kami tersebut, diantaranya adalah dari kawan aktivis saya yang berasal dari Iran. Ia bercerita bahwa Iran merupakan negara yang sangat represif, dan ia pun tidak pernah memberi tahu siapa-siapa bila ia pergi ke luar negeri dan menghadiri konfrensi atau acara gerakan pro kebebasan.

Kawan saya dari Iran tersebut mengatakan bahwa ia tidak pernah memposting foto ataupun kegiatan acara di sosial media yang dimilikinya. Ia pun juga meminta kepada panitia acara untuk tidak memposting foto dirinya di sosial media. Terminologi liberalisme di Iran sendiri sangatlah buruk dan kata 'liberalisme' kerap digunakan oleh masyarakat Iran untuk mengejek dan menghina orang lain.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangat kawan saya tersebut dalam perjuangannya menyebarkan gagasan liberalisme. Ia mengatakan bahwa fokus kegiatan yang dilakukannya sekarang di Iran adalah mendorong agar pemerintah Iran menerapkan kebijakan kebebasan ekonomi yang lebih besar, diantaranya melalui privatisasi dan deregulasi.

Setelah sesi speed dating, acara dilanjutkan dengan pembukaan resmi dan cornerstone talks dari empat pembicara, yakni Dr. Tom G. Palmer mewakili Atlas, Dhananath Fernando dari Advocarta Institute Sri Lanka, Roy Spencer dari Conscious Capitalism Amerika Serikat, dan Bryan Cheang dari Adam Smith Center Singapura.

Salah satu hal yang paling menarik dan saya ingat dari keempat pembicara tersebut adalah Dhananath Fernando dari Sri Lanka. Dhananath mengawali presentasinya dengan sebuah kata mutiara kuno yang sangat terkenal, yakni "Berikan seseorang ikan, maka kamu akan memberinya makan untuk satu hari. Ajari seseorang bagaimana cara menangkap ikan, maka kamu akan memberinya makan untuk seumur hidupnya."

Akan tetapi, persoalannya adalah bagaimana bila pemerintah menerapkan pembatasan untuk menangkap ikan tersebut? Bagaimana bila pemerintah melarang warganya untuk menangkap ikan? Atau boleh menangkap ikan tapi dilarang untuk dijual? Atau menjual ikan tapi harganya ditentukan oleh pemerintah dan dipajaki dengan sangat tinggi?

Inilah yang menjadi penyebab dari banyak permasalahan ekonomi yang dialami oleh jutaan manusia di berbagai belahan dunia, termasuk di Sri Lanka. Mereka tahu bagaimana cara bekerja, bagaimana cara menangkap ikan, namun pemerintah menerapkan berbagai halangan dan batasan yang menyebabkan warga tidak bisa mengeluarkan seluruh potensi yang dimilikinya. Berbagai batasan ini ada dalam berbagai bentuk, baik regulasi, kuota, tarif, dan pajak yang sangat tinggi.

Hal inilah yang ingin dilawan oleh Advocata Institute demi tercapainya kebebasan ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat Sri Lanka. Baik melalui riset kebijakan atau kampanye publik, Advocata berusaha meningkatkan kesadaran masyarakat Sri Lanka bahwa kebebasan ekonomi merupakan hal yang sangat penting dan krusial dan merupakan dasar bagi terwujudnya masyarakat yang bebas dan sejahtera.

Setelah saat makan siang, saya mendapatkan kesempatan pitch selama 1 menit untuk berbicara mengenai proyek yang akan saya lakukan bersama Suara Kebebasan. Saya mendapat kesempatan tersebut karena saya menjadi salah satu partisipan dari workshop Atlas Think Tank Essentials pada 25 - 27 Februari lalu di Colombo, tepat sebelum acara Asia Liberty Forum.

Dalam pitch tersebut, saya berbicara mengenai proyek serial public discussion. Proyek ini sebenarnya adalah kegiatan yang selama ini dilakukan oleh Suara Kebebasan yang saya juga terlibat didalamnya sebagai kontributor tetap. Kegiatan tersebut bernama Ngopi Sore untuk Kebebasan. Dalam pitch tersebut, saya menyampaikan bahwa proyek ini akan mendorong diskusi soal kebebasan rutin setiap satu bulan sekali.

Seperti biasa,  acara tersebut akan terbuka untuk semua kalangan secara gratis. Di acara diskusi publik tersebut, Suara Kebebasan akan mengundang tokoh-tokoh liberal terkemuka dari Indonesia yang berasal dari berbagai latar belakang, baik akademisi, ekonom, politisi, aktivis, jurnalis, atau penulis, untuk membicarakan berbagai isu ekonomi, sosial, dan politik di Indonesia yang dilihat dari kacamata liberalisme.

Pasca pitch tersebut, saya mendapat banyak masukan dari berbagai peserta conference tersebut. Diantaranya adalah pentingnya membuat target yang jelas mengenai apa yang harus dicapai secara rinci dan spesifik, sebagai bahan evaluasi nantinya agar kelak acara yang dilakukan akan semakin baik.

Dalam acara Asia Liberty Forum yang diadakan selama 2 hari tersebut, sayangnya tidak bisa saya ikuti secara penuh. Saya hanya berkesempatan mengikuti hari pertama kegiatan ALF karena di hari kedua pagi saya harus kembali ke Indonesia.

Namun, meskipun demikian, saya sangat senang dan bersyukur dapat berpartisipasi di ALF kembali karena banyak saran, masukan, pengetahuan dan cerita yang saya dapatkan dari berbagai peserta dan pembicara. Selain itu, ALF juga merupakan salah satu acara terbaik untuk reuni dan bertemu kembali dengan kawan-kawan pejuang kebebasan dari berabagi negara di Asia. Saya harap saya dapat kembali menghadiri Asia Liberty Forum tahun 2020 yang akan dilaksanakan di Hong Kong oleh Lion Rock Institute.

Haikal Kurniawan

Haikal Kurniawan adalah kontributor tetap Suara Kebebasan yang merupakan alumni dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Jurusan Ilmu Politik, Universitas Indonesia. Haikal menyelesaikan studinya di Universitas Indonesia pada tahun 2018 dengan judul skripsi "Warisan Politik Ronald Reagan Untuk Partai Republik Amerika Serikat (2001-2016)."

Selain menjadi penulis di Suara Kebebasan, Haikal juga aktif dalam beberapa organisasi libertarian lainnya. Diantaranya adalah menjadi anggota Charter Teams organisasi mahasiswa libertarian, Students for Liberty sejak tahun 2015, dan telah mewakili Students for Liberty ke acara Asia Liberty Forum (ALF) di Kuala Lumpur, Malaysia pada tahun 2016.

Haikal juga merupakan salah satu pendiri dan koordinator dari komunitas libertarian, Indo-Libertarian sejak tahun 2015. Selain itu, Haikal juga merupakan alumni program summer seminars yang diselenggarakan oleh institusi libertarian Amerika Serikat, Institute for Humane Studies, dimana Haikal menjadi peserta dari salah satu program seminar tersebut di Bryn Mawr College, Pennsylvania, Amerika Serikat pada bulan Juni tahun 2017.

Haikal dapat dihubungi melalui email: [email protected] dan [email protected]